Computational Thinking untuk Anak Usia Dini

Perkembangan teknologi saat ini telah membawa banyak perubahan dalam berbagai lini kehidupan. Jika dulu kita perlu pergi ke pasar untuk berbelanja misalnya, saat ini kita hanya perlu memesan kebutuhan rumah melalui ponsel pintar seraya menikmati teh hangat dari rumah :D. Jika dulu kita perlu ke restauran untuk memesan makanan favorit, saat ini kita hanya perlu memesan makanan melalui aplikasi online dan makanan akan siap diantar ke rumah.

Contoh lain, mungkin teman-teman pernah membahas produk tertentu di aplikasi komunikasi seperti Whatsapp. Lalu beberapa menit kemudian muncul iklan di Istagram tentang produk yang teman-teman perbincangkan tadi. Nah, siapa yang memberitahu mesin tentang produk tersebut sehingga iklannya sesuai? Tanpa kita sadari, mesin yang kita gunakan saat ini telah menjadi sedemikian cerdas.

Selain berbagai kemudahan yang kita rasakan saat ini dengan adanya perkembangan teknologi, kondisi pandemi yang melanda dunia saat itu juga telah mendorong sektor pendidikan untuk banyak berinovasi. Murid dan guru kini dituntut untuk mampu beradaptasi dengan cepat untuk mendukung pembelajaran jarak jauh dengan beragam teknologi yang berkembang begitu pesat.

Tumbuh di era digital, anak-anak saat ini tidak hanya dituntut untuk mampu menggunakan teknologi, namun juga diharapkan untuk turut membentuk dunia digital di masa depan.

Lalu, bagaimana cara kita membantu anak-anak memiliki kemampuan yang akan dibutuhkan di masa depan?

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan anak-anak menghadapi era teknologi adalah dengan membekali anak-anak kemampuan berpikir komputasional (computational thinking). Melalui computational thinking, anak-anak akan belajar bagaimana suatu masalah dapat diurai menjadi masalah yang lebih sederhana yang nantinya dapat dieksekusi oleh komputer.

Mengapa ini penting? Salah satu tujuannya adalah agar pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya rutin, repetitif dan yang membutuhkan kalkulasi yang kompleks bisa diotomasi oleh mesin nantinya. Otomasi akan sangat membantu untuk meningkatkan efisiensi dalam berbagai aspek kehidupan. Masih ingat kan bagaimana online delivery bisa sangat memudahkan kehidupan kita saat ini? 🙂

Nah jika anak-anak terbiasa memiliki kemampuan computational thinking sejak usia dini, diharapkan pola berpikir ini akan membantu mereka tumbuh dengan kemampuan berpikir kritis, logis dan mampu mengurai masalah-masalah kompleks yang nantinya mereka hadapi di era globalisasi.

Ilustrasi Computational Thinking (Berpikir Komputasional) untuk Anak (dok. pribadi)

Apa yang dimaksud dengan Computational Thinking?

Merujuk pada K-12 Computer Science Framework,  computational thinking dapat diartikan sebagai sebuah proses dalam memecah masalah (khususnya masalah yang dapat diekspresikan menjadi langkah atau algoritme) yang kemudian dapat dieksekusi oleh komputer. Dalam computational thinking tidak dibutuhkan komputer, namun kita membutuhkan computational thinking untuk membuat program komputer.

Secara sederhana, computational thinking dapat diartikan sebagai sebuah proses pemikiran tingkat tinggi (higher level thinking) dimana suatu individu mengambil suatu masalah, memecah masalah tersebut menjadi masalah-masalah yang lebih sederhana, kemudian mencoba menyusunnya kembali untuk menghasilkan solusi.

Berbeda dengan manusia yang dapat bertindak dengan logika maupun berdasarkan intuisi, komputer secara harfiah bekerja dengan mengeksekusi serangkaian perintah yang diberikan. Jika instruksi yang kita berikan tidak jelas dan tidak rinci, maka algoritme yang dijalankan oleh komputer dapat menghasilkan keluaran yang tidak sesuai. Oleh karenanya, proses memecah masalah menjadi masalah-masalah yang lebih sederhana ini penting sebagai tahap awal sebelum membuat program komputer.

Apakah konsep problem solving dalam computational thinking ini dapat dianologikan dengan contoh sehari-hari yang lebih sederhana?

Mari kita lihat contoh sederhana yang kita temui saat memakan coklat batangan. Agar dapat memakan coklat yang besar dengan mudah, coklat perlu dipatahkan menjadi bongkahan-bongkahan coklat yang lebih kecil. Setelah itu bongkahan coklat yang kecil tersebut dapat dimakan satu persatu :D. Nah jadi lebih mudah kan makan coklatnya? Atau mungkin lebih mudahnya lagi, kita bisa mematahkan coklat tersebut dengan gigi menjadi potongan lebih kecil lalu kita makan. Tentu ada banyak cara memakan coklat. Namun yang ingin ditekankan di sini adalah bahwa untuk memecahkan permasalahan yang kompleks kita bisa mulai dengan memecah masalah tersebut menjadi masalah yang lebih kecil. Dengan masalah yang lebih sederhana tadi, permasalahan dapat diselesaikan lebih mudah. Contohnya seperti coklat tadi yang kita potong menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, sehingga coklat menjadi lebih mudah dimakan.

Selintas tampak rumit sekali, mengapa untuk memakan coklat saja perlu dirumuskan. Tapi berangkat dari contoh yang sederhana tadi, konsep problem solving dalam computational thinking ini akan membantu membentuk kerangka berpikir yang sistematis ketika menghadapi permasalahan yang jauh lebih kompleks di dunia nyata.

Secara sederhana, computational thinking dapat diartikan sebagai sebuah proses pemikiran tingkat tinggi (higher level thinking) dimana suatu individu mengambil suatu masalah, memecah masalah tersebut menjadi masalah-masalah yang lebih sederhana, kemudian mencoba menyusunnya kembali untuk menghasilkan solusi.

Apa manfaat mengajarkan anak-anak computational thinking?

Mengajarkan anak berpikir komputasional akan membantu mereka memiliki kemampuan critical thinking, creativity dan problem solving. Kemampuan-kemampuan ini adalah beberapa skills yang diprediksi sangat dibutuhkan di tahun 2025 berdasarkan World Economic Forum.

Ilustrasi pixel komputer (dok. pribadi)

Apa saja kemampuan Computational Thinking yang dapat mendukung pembelajaran anak usia dini?

Mendekomposisi tugas (Decomposing tasks)

Mendekomposisi tugas atau mengurai masalah yang besar menjadi masalah-masalah yang lebih kecil merupakan salah satu konsep penting dalam computational thinking. Bagaimana konsep ini dapat kita kenalkan kepada anak-anak pada usia dini? Orang tua dapat mulai mengenalkan konsep dekomposisi tugas melalui berbagai aktivitas sederhana seperti saat menentukan rutinitas sebelum tidur. Bersama orang tua, anak-anak dapat membuat list apa saja langkah yang perlu dilakukan menjelang tidur. Misalnya, mulai dari menyikat gigi, mencuci tangan dan kaki sebelum tidur, membaca buku, membaca doa, lalu kemudian tidur.

Berpikir logis dan algoritmik (Thinking logically and algorithmically)

Selain kemampuan mendekomposisi tugas, salah satu konsep computational thinking adalah berpikir logis dan algoritmik. Proses berpikir logis dan algoritmik dapat dimulai dengan merumuskan serangkaian aksi untuk mencapai tujuan dan mengenali pola maupun mengenali repetisi. Contohnya saat anak bermain lego dan membuat mobil dari lego. Apakah anak-anak menyadari bahwa terdapat pola yang sama pada saat merangkai mobil, seperti menyadari bahwa mobil membutuhkan 4 roda, stir dan sebagainya. Contoh lain, minta anak Anda untuk membuat sebuah rumah dari lego. Pada saat awal anak mungkin akan membutuhkan beberapa waktu untuk membuat sebuah rumah, namun pada percobaan kedua dan ketiga dan Anda meminta anak membuat bangunan yang sama, anak kemungkinan besar akan dapat membuatnya lebih cepat karena telah mengenali polanya.

Terlibat dalam Abstraksi (Enganging in abstraction)

Tahap abstraksi mengedepankan fokus terhadap hal-hal penting yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan mengabaikan hal-hal yang kurang penting. Contohnya pada saat mencari jalan keluar dari sebuah labirin, amati apakah anak-anak bisa berfokus pada jalan yang mengantarkan anak-anak ke pintu keluar dan mengabaikan jalan-jalan yang tidak membawa mereka kepada solusi.

Mendeteksi error secara sistematis dan debugging

Mengajarkan anak kemampuan mendeteksi error secara sistematis, ini dapat kita kenalkan melalui aktivitas packing barang. Minta anak memasukkan 5 peralatan dalam tas mereka dengan ukuran barang berbeda-beda. Tanyakan apakah mereka dapat menyusun barang tersebut agar muat ke dalam tas. Jika urutan yang mereka pilih salah, barang kemungkinan tidak dapat masuk ke dalam tas. Bisakah mereka mengatur kembali barang yang dimasukkan dan melihat dimana kesalahan yang mereka lakukan sebelumnya?

Nah yang kita bahas di atas adalah beberapa contoh sederhana computational thinking yang dapat kita ajarkan ke anak-anak tanpa menggunakan gawai (off-screen activities).

Pada artikel berikutnya kita akan bahas beberapa permainan sederhana yang dapat dilakukan oleh orang tua atau pengasuh untuk mengenalkan konsep computational thinking lebih lanjut.

Semua bisa mempelajari konsep berpikir komputasional, jadi yuk kita kenalkan anak kita computational thinking :D.

Semoga artikel ini bermanfaat :D.

Referensi

https://www.weforum.org/agenda/2020/10/top-10-work-skills-of-tomorrow-how-long-it-takes-to-learn-them/

https://www.ifamilykc.com/blog/guide/computational-thinking-skills/

https://teachyourkidscode.com/what-is-computational-thinking/
https://earlyinsights.org/planting-the-seeds-of-computational-thinking-in-early-childhood-efa97c34ff8d

Tentang Penulis /

A Computer scientist, full-time researcher, Artificial Intelligence enthusiast, and a mom of two :).

Tinggalkan Balasan

Mulai mengetik dan tekan Enter untuk mencari

%d blogger menyukai ini: